Bayi Surga dan Bayi Dunia

Bayi

Kebahagiaan terbesar bagi para pasangan baru adalah saat akan menjadi orang tua, saat Allah menitipkan amanah nan begitu indah yang bisa menciptakan surga kecil pada bahtera rumah tangga mereka. Itu juga yang dirasakan salah satu pasangan yang sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Sang suami waktu itu sedang menunggu Surat Keputusan (SK) penempatan kerjanya, sebelum SK keluar, waktu senggang diisi oleh sang suami dengan kerja sambilan, lumayan buat tambahan persiapan persalinan si kecil yang sudah dinantikan. Sang istri pun tak kalah semangat, semampunya tetap bekerja sampai masa cuti hamil tiba. Berbagai perlengkapan bayi pun mulai dicicil satu persatu, mulai dari baju, popok, selimut dan tetek bengek yang lainnya. Hanya tinggal menghitung waktu kelahiran, menunggu mimpi dan angan-angan menimang buah hati yang begitu dinanti.

Namun bukannya mimpi yang menjadi kenyataan, malah hal yang tak diharapkanlah yang menjadi kenyataan. Allah menguji keikhlasan pasangan muda itu, menguji kesabaran suami istri itu. Sang istri keguguran, si bayi lahir ke dunia dengan keadaan tak bernyawa. Tak terbayangkan begitu hancurnya hati seorang ibu ketika menghadapi kenyataan bayi yang dilahirkannya terdiam kaku, apalagi itu adalah kelahiran yang pertama. Hati suami pun terasa sangat perih, angan-angan menjadi seorang ayah pupus seketika.

Perlu waktu untuk benar-benar mengikhlaskan sang buah hati yang tak sempat melihat dunia dan langsung dipanggil Rabbnya itu. Tapi suami istri tersebut tak mau tenggelam dalam duka. Dukungan dari keluarga, kerabat,  sahabat, saudara dan teman pun berdatangan menguatkan hati yang rapuh itu. Sedih boleh tapi tak boleh berlarut-larut, suami istri itu yakin bahwa Allah akan memberikan buah hati lagi untuk mereka. Ikhtiar dan doa pun selalu mereka lakukan agar Allah wujudkan angan yang sempat pupus.

“Duhai Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami titipkan di sisi-Mu Habib buah hati kami yang tersayang…”. Bayi itu diberi nama Habib, artinya “Yang Tersayang” dan ia telah menjadi Bayi Surga.

Kesedihan telah menjadi kenangan, tergantikan dengan harapan-harapan yang baru. Setelah melahirkan Habib, sang istri melanjutkan cuti sampai seterusnya, sebut saja sang istri mengundurkan diri dari pekerjaannya di suatu Departement Store terbesar di kota mereka tinggal. Bukan tanpa alasan sang istri mengundurkan diri, saat itu SK sang suami sudah keluar dan mendapatkan penempatan kerja di pulau seberang. Pulau tersebut adalah Pulau Kalimantan, seberang utara Pulau Jawa yang mereka tinggali saat ini. Kehidupan di kota yang baru pun dimulai.

***

Sebuah rumah kontrakan sederhana, berdinding dan berlantai kayu serta berbentuk rumah panggung khas Kalimantan yang terletak di pinggiran salah satu kota di pulau itu sedang ramai dikunjungi kerabat, sanak saudara dan para tetangga, maklum sedang ada acara syukuran “Nujuh Bulanan”, Semacam kebudayaan merayakan kehamilan yang telah memasuki usia tujuh bulan, tradisi yang terdiri dari berbagai ritual dan doa-doa dengan tujuan agar si ibu selalu sehat dan bayi dalam kandungan lahir dengan selamat. Apalagi kelahiran bayi ini begitu diharapkan setelah gagal dalam kelahiran sebelumnya.

Sebenarnya sang suami kurang setuju dengan budaya-budaya seperti itu, ritual-ritualnya bisa tergolong dalam amalan bid’ah. Tapi sang suami meniatkan itu sebagai acara syukuran dan berbagi kebahagiaan bersama orang-orang sekitar serta menghormati usulan orang tua angkat pasangan suami istri tersebut yang merupakan penduduk asli di daerah itu. Begitulah hidup di perantauan, harus pintar-pintar menyikapi berbagai macam hal.

Acara Nujuh Bulanan telah selesai, para undangan telah meninggalkan acara, tiba-tiba cairan bening membasahi sekujur kaki sang istri. Tidak salah lagi cairan itu adalah air ketuban. Sang istri begitu terkejut, mengingat usia kandungan yang baru tujuh bulan, sungguh tak wajar ketuban telah pecah, harusnya itu terjadi pada saat usia kandungan sembilan bulan ketika sudah saatnya bayi untuk lahir. Trauma masa lalu pun menghampiri, takut kehilangan sang buah hati untuk yang kedua kalinya. Menyaksikan kejadian itu sang istri langsung pucat lalu memanggil suaminya, dan sang suami bergegas meminta bantuan orang tua angkat mereka yang tinggal di sebelah rumah serta bantuan tetangga sekitar, sekaligus mencari bidan untuk segera melakukan proses persalinan.

“Masih ada harapan, ini kelahiran prematur, banyak kelahiran prematur yang berhasil. Bayi ini masih bisa dilahirkan dengan selamat!” sang bidan meyakinkan. Sang suami harap-harap cemas mendampingi istrinya sembari melantunkan doa-doa di dalam hati, sementara itu sang istri berjuang dengan nyawanya, keringat yang bercucuran, rasa sakit yang begitu perih dan badan yang bersimbah darah demi sang buah hati yang dinantikan. Akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki dari rahim sang istri. Sang istri pun bisa bernafas lega, rasa syukur pun terucap. Begitu pula dengan sang suami, bidan dan semua orang yang membantu persalinan juga memanjatkan syukur.

Tapi ada yang aneh dengan bayi itu, tubuhnya begitu mungil karena terlahir lebih cepat daripada kelahiran bayi normal. Selain tubuhnya yang begitu mungil yang panjangnya tak lebih seukuran telapak sampai siku orang dewasa, ia juga tidak menangis saat dilahirkan, hanya diam. Kulitnya pun berwarna sangat merah dan tak ada sehelai rambut pun yang tumbuh. Si Bayi lahir tidak sempurna. Astagfirullah, tak terbayangkan bagaimana perasaan suami istri tersebut. Semua orang menjadi cemas, terutama sang istri yang entah harus bagaimana lagi. Lalu dengan sigap sang bidan mengangkat tubuh bayi dan menepuk-nepuk punggungnya, mungkin ada air ketuban yang menyedak kerongkongan si bayi. Ternyata benar, setelah sang bidan melakukan tindakan, bayi itu pun menangis “owe”, tapi hanya sekali “owe” itu saja, lalu kembali diam. Namun bayi itu telah bernafas. Dia hidup! Seorang bayi telah lahir ke dunia. Semuanya pun lega. Alhamdulillah. Bayi itu diberi nama Syakur yang artinya “Syukur” ia terlahir sebagai Bayi Dunia.

***
Di satu sisi suami istri itu sangat bersyukur, akhirnya kali ini mereka memiliki buah hati dan telah menjadi orangtua sehingga lengkaplah keberkahan pernikahan mereka, di sisi lain ada kesedihan yang tak bisa disembunyikan ketika melihat bayi mereka lahir berbeda. Selama beberapa bulan bayi itu selalu tidur, ketika bangun pun itu hanya sebentar jika ingin menyusui atau buang air, namun matanya tetap terpejam. Si Bayi juga sangat jarang menangis. Orang tuanyalah yang menangis, yang mungkin airmata mereka telah habis, hingga batin merekalah yang menangis.

Muncul berbagai prasangka, khawatir  bayi mereka akan tumbuh cacat. Astagfirullah, dibuang jauh-jauh prasangka itu. Mereka yakin Allah Maha Adil. Sang istri berusaha tegar selalu menjaga disamping buah hati tercintanya. Sang suami pun berusaha lebih sabar, sebab sang suami tak boleh terlihat sedih dan ia harus menguatkan hati istrinya.

Allah memang Maha Adil, perlahan bayi mungil itu tumbuh dan berkembang dengan baik, malah lebih pesat dari bayi normal. Tumbuh menjadi bayi yang lucu dan sehat. Kesabaran dan ketegaran suami istri tersebut pun berbuah kebahagiaan. Menjadi pelipur lara kenangan tentang anak pertama mereka.

“Duhai Allah Yang Maha Pengasih, Berjuta puja dan puji untuk Engkau atas rasa syukur dan rasa terima kasih…”

***

Bayi Dunia itu adalah aku, perkenalkan namaku adalah Amru (El-)Aziz(y) Shobbarin Syakur Yunus, adik dari Habib si Bayi Surga, anak dari orang tua yang luar biasa. Semoga kisah ini bisa menjadi sedikit penentram hati bagi mereka yang sedang menantikan Bayi Dunia, mereka yang bayinya telah menjadi Bayi Surga dan mereka para Bayi Dunia yang terlahir berbeda seperti aku. Mudah-mudahan Allah berkahi kita semua. Aaamiin.

Tulisan ini pernah dimuat di dakwatuna.com, link : http://www.dakwatuna.com/2014/04/28/50462/bayi-surga-dan-bayi-dunia/#axzz30CGbQqKv

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s