Bekerja dengan Cinta

Sapu

Pria paruh baya itu berpostur tinggi dan berbadan kurus. Terlihat banyak gurat – gurat keriput  di wajahnya dan beberapa helai rambutnya sudah memutih. Namun aura wajah tirus itu selalu terlihat bahagia. Ia selalu tampak riang, sehingga membiaskan parasnya yang telah tergerus usia.

Bisa dibilang pria itu tidak terlalu tua, tetapi pastinya ia sudah tidak sekuat seperti masa mudanya. Karenanya ia lebih cepat payah dan letih serta kegesitannya sudah menurun.

Tapi darinya lah aku belajar makna bekerja.

***

Seperti biasa, akhir pekan adalah saat yang paling dinanti oleh pekerja sepertiku, hari dimana diriku mempunyai waktu untuk santai sejenak dari rutinitas kerja yang melelahkan dan menguras pikiran. Dan ketika hari Minggu telah dilalui, selalu saja ada rasa untuk tak ingin bertemu dengan hari Senin. Ya, karena saat hari Senin tiba rutinitas kerja pun dimulai kembali.

Akhir pekan juga waktu yang pas untuk bercengkerama dengan keluarga, sanak saudara, kerabat maupun teman. Sehingga setiap akhir pekan aku selalu menyempatkannya.

Tapi waktu untuk santai seperti akhir pekanku sepertinya tidak berlaku bagi pria itu. Ia seolah tak mengenal hari libur, hampir setiap hari selalu kutemui sosoknya di sekitar stasiun, entah itu ketika aku ingin berangkat kerja, waktu aku pulang kerja, bahkan waktu akhir pekan.

Layaknya seperti hari biasa, pria itu melakukan rutinitasnya yaitu membersihkan sampah-sampah yang berserakan, meski ketika sudah ia bersihkan ada saja orang yang membuang sampah sembarangan padahal tempat sampah sudah tersedia, dan ia dengan sabar memungutnya tanpa rasa kesal sedikit pun terlihat di wajahnya. Ia juga senantiasa mengepel lantai stasiun dengan wajah ceria dan telaten, bayangkan, padahal selang waktu beberapa menit saja lantai tersebut sudah kotor lagi dengan jejak-jejak para pengunjung stasiun. Ia lakukan semua itu setiap hari sembari menebar senyuman kepada setiap pengunjung statiun yang melintas didepannya.

Ia tak perduli meskipun pekerjaan yang dilakukannya begitu melelahkan, ia tak menyalahkan orang yang membuang sampah sembarangan, ia juga tidak kesal terhadap mereka yang mengotori lantai yang baru saja ia pel, dan ia tak pernah berhenti menebar senyuman meski tidak sedikit yang mengacuhkan senyumannya. Dan semua itu ia lakukan setiap hari, ya, setiap hari termasuk akhir pekan.

 

Sejenak aku merenung, diriku masih saja sering mengeluh, berwajah masam, malas-malasan, padahal aku sudah bekerja di tempat yang nyaman, ruang kerja yang sejuk, orang-orang yang saling membantu, dan dari lima hari kerja, aku mendapatkan dua hari akhir pekan untuk libur. Sungguh bila dibandingkan dengan pria itu aku begitu malu.

***

Hari ini kereta datang terlambat dari jadwal biasanya, jadilah aku menunggu lebih lama di stasiun sepulang kerja. Tiba-tiba disebelahku duduk pria itu, aku pun memberanikan diri untuk menyapanya. Dan benar seperti dugaanku ia membalas sapaanku dengan ramah. Aku pun berbincang-bincang dengannya, ia bercerita tentang rutinitasnya, teman-teman kerjanya, kisah stasiun ini dari masa ke masa, keluarganya, yang katanya kemarin baru saja ia memiliki cucu baru.

Setelah berbincang sejenak denganku, ia mohon pamit ingin melanjutkan pekerjaannya, kebetulan juga keretaku sudah tiba. Saat sudah masuk dan duduk di bangku kereta aku menatap pria itu dari jendela kereta, sekejap aku termenung…

Rutinitas dan pekerjaan pria itu mungkin tidak istimewa, bahkan bisa saja ada orang yang menganggapnya dengan sebelah mata. Melakukan pekerjaan kasar dengan begitu meletihkan dan melelahkan demi sedikit nafkah, bukan pekerjaan kantoran yang tersedia penyejuk ruangan dan berbagai fasilitasnya. Tidak hanya pria itu, aku sering melihat orang-orang sepertinya yang tetap bekerja dengan ceria meski pekerjaan yang mereka lakukan sebenarnya wajar saja bila tak dilakukan dengan ceria.

Lalu mengapa mereka selalu ceria dan seolah tak pernah lelah? Aku masih mengingat kalimat pria itu saat kami berbincang, katanya “Dek, bapa melakukan pekerjaan ini dengan cinta dan bapak mencintai pekerjaan ini, bapak begitu bersyukur karena hasil dari pekerjaan ini, bapak bisa menafkahi keluarga bapak.”

Ya akhirnya aku sadar, bahwa harus BEKERJA DENGAN CINTA DAN MENYUKURI SETIAP PROSESNYA, KARENA PASTI ADA KEBAHAGIAAN DI SITU. Aku pun bertekad untuk memulai pekerjaan esok dengan cinta dan keceriaan.

Dalam hati aku berbisik, “Ya Rabb, terimakasih atas pelajaran berharga yang Engkau sampaikan melalui bapak itu”.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s