Bekerja dengan Cinta

Sapu

Pria paruh baya itu berpostur tinggi dan berbadan kurus. Terlihat banyak gurat – gurat keriput  di wajahnya dan beberapa helai rambutnya sudah memutih. Namun aura wajah tirus itu selalu terlihat bahagia. Ia selalu tampak riang, sehingga membiaskan parasnya yang telah tergerus usia.

Bisa dibilang pria itu tidak terlalu tua, tetapi pastinya ia sudah tidak sekuat seperti masa mudanya. Karenanya ia lebih cepat payah dan letih serta kegesitannya sudah menurun.

Tapi darinya lah aku belajar makna bekerja.

***

Seperti biasa, akhir pekan adalah saat yang paling dinanti oleh pekerja sepertiku, hari dimana diriku mempunyai waktu untuk santai sejenak dari rutinitas kerja yang melelahkan dan menguras pikiran. Dan ketika hari Minggu telah dilalui, selalu saja ada rasa untuk tak ingin bertemu dengan hari Senin. Ya, karena saat hari Senin tiba rutinitas kerja pun dimulai kembali.

Akhir pekan juga waktu yang pas untuk bercengkerama dengan keluarga, sanak saudara, kerabat maupun teman. Sehingga setiap akhir pekan aku selalu menyempatkannya.

Tapi waktu untuk santai seperti akhir pekanku sepertinya tidak berlaku bagi pria itu. Ia seolah tak mengenal hari libur, hampir setiap hari selalu kutemui sosoknya di sekitar stasiun, entah itu ketika aku ingin berangkat kerja, waktu aku pulang kerja, bahkan waktu akhir pekan.

Layaknya seperti hari biasa, pria itu melakukan rutinitasnya yaitu membersihkan sampah-sampah yang berserakan, meski ketika sudah ia bersihkan ada saja orang yang membuang sampah sembarangan padahal tempat sampah sudah tersedia, dan ia dengan sabar memungutnya tanpa rasa kesal sedikit pun terlihat di wajahnya. Ia juga senantiasa mengepel lantai stasiun dengan wajah ceria dan telaten, bayangkan, padahal selang waktu beberapa menit saja lantai tersebut sudah kotor lagi dengan jejak-jejak para pengunjung stasiun. Ia lakukan semua itu setiap hari sembari menebar senyuman kepada setiap pengunjung statiun yang melintas didepannya.

Ia tak perduli meskipun pekerjaan yang dilakukannya begitu melelahkan, ia tak menyalahkan orang yang membuang sampah sembarangan, ia juga tidak kesal terhadap mereka yang mengotori lantai yang baru saja ia pel, dan ia tak pernah berhenti menebar senyuman meski tidak sedikit yang mengacuhkan senyumannya. Dan semua itu ia lakukan setiap hari, ya, setiap hari termasuk akhir pekan.

 

Sejenak aku merenung, diriku masih saja sering mengeluh, berwajah masam, malas-malasan, padahal aku sudah bekerja di tempat yang nyaman, ruang kerja yang sejuk, orang-orang yang saling membantu, dan dari lima hari kerja, aku mendapatkan dua hari akhir pekan untuk libur. Sungguh bila dibandingkan dengan pria itu aku begitu malu.

***

Hari ini kereta datang terlambat dari jadwal biasanya, jadilah aku menunggu lebih lama di stasiun sepulang kerja. Tiba-tiba disebelahku duduk pria itu, aku pun memberanikan diri untuk menyapanya. Dan benar seperti dugaanku ia membalas sapaanku dengan ramah. Aku pun berbincang-bincang dengannya, ia bercerita tentang rutinitasnya, teman-teman kerjanya, kisah stasiun ini dari masa ke masa, keluarganya, yang katanya kemarin baru saja ia memiliki cucu baru.

Setelah berbincang sejenak denganku, ia mohon pamit ingin melanjutkan pekerjaannya, kebetulan juga keretaku sudah tiba. Saat sudah masuk dan duduk di bangku kereta aku menatap pria itu dari jendela kereta, sekejap aku termenung…

Rutinitas dan pekerjaan pria itu mungkin tidak istimewa, bahkan bisa saja ada orang yang menganggapnya dengan sebelah mata. Melakukan pekerjaan kasar dengan begitu meletihkan dan melelahkan demi sedikit nafkah, bukan pekerjaan kantoran yang tersedia penyejuk ruangan dan berbagai fasilitasnya. Tidak hanya pria itu, aku sering melihat orang-orang sepertinya yang tetap bekerja dengan ceria meski pekerjaan yang mereka lakukan sebenarnya wajar saja bila tak dilakukan dengan ceria.

Lalu mengapa mereka selalu ceria dan seolah tak pernah lelah? Aku masih mengingat kalimat pria itu saat kami berbincang, katanya “Dek, bapa melakukan pekerjaan ini dengan cinta dan bapak mencintai pekerjaan ini, bapak begitu bersyukur karena hasil dari pekerjaan ini, bapak bisa menafkahi keluarga bapak.”

Ya akhirnya aku sadar, bahwa harus BEKERJA DENGAN CINTA DAN MENYUKURI SETIAP PROSESNYA, KARENA PASTI ADA KEBAHAGIAAN DI SITU. Aku pun bertekad untuk memulai pekerjaan esok dengan cinta dan keceriaan.

Dalam hati aku berbisik, “Ya Rabb, terimakasih atas pelajaran berharga yang Engkau sampaikan melalui bapak itu”.

***

Advertisements

Cinta Sepasang Insan Mulia (Ali & Fatimah)

#halaqahcinta

Assalamu’alaikum, sahabat-sahabat pasti sudah tahu kan kisah cinta Ali dengan Fatimah, tapi tidak mengapa kan kalau aku ingin sedikit menceritakannya kembali, sesuai yang aku ketahui dengan versiku sendiri.Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata, kisah para insan yang dimuliakan Allah. Inilah kisah cinta kedua hamba mulia itu;

Ali adalah anak dari paman Nabi Muhammad Rasulullah SAW yaitu Abi Thalib, sebut saja Ali adalah sepupu Rasul. Abi Thalib sangat sayang kepada Rasul. Sepeninggal orang tua Rasul, Abi Thalib lah yang merawat Rasul bahkan selalu membela Rasul dalam memperjuangkan dakwah Islam walaupun pada ajalnya Abi Thalib wafat bukan sebagai muslim, Rasul sangat sedih mengenai hal itu. Ali sejak kecil tinggal bersama Rasul, kalau tidak salah semenjak umur Ali tujuh tahun. Ali merupakan satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan ia adalah yang paling muda diantara yang lain, ia juga termasuk tokoh Islam atau sahabat Rasul yang sangat berpengaruh dan berjasa. Ali adalah pemuda yang gagah, tampan, kuat dan cerdas. Bahkan Rasul pernah berkata jikalau Rasul adalah sebuah gudang ilmu maka Ali lah gerbang gudang ilmu tersebut. Setelah sepeninggal Rasul, Islam dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin, Ali menjadi Khulafaur Rasyidin setelah Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan.

Sedangkan Fatimah Az-Zahra adalah putri kesayangan Rasul dari pernikahan beliau dengan Siti Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah istri pertama Rasul, seorang saudagar kaya yang cantik dan berakhlak mulia. Menurut berbagai riwayat, Khadijah adalah orang yang paling pertama masuk Islam. Khadijah sangat setia dan rela berkorban apapun demi Rasul dan Islam. Rasul pun sangat sayang kepada Khadijah. Selama Rasul menjadi suami Khadijah, Rasul tidak memadu Khadijah dengan perempuan lain. Ketika Khadijah meninggal, Rasul sangat sedih, begitu pula dengan Fatimah. Fatimah adalah perempuan yang tegar, cantik, baik dan lembut. Sebagai anak yang berbakti pada ayahnya, Fatimah lah yang mengurus Rasul sejak Khadijah meninggal sampai Rasul menikah lagi. Sampai suatu ketika saat Rasul menjelang wafat, Fatimah lah orang yang sangat sedih jika Rasul meninggalkannya tapi Fatimah juga adalah yang paling bahagia karena kata Rasul setelah sepeninggal Rasul, Fatimah lah yang pertama kali akan menyusul Rasul ke surga.

Sejak Ali ikut tinggal bersama Rasul dan keluarganya, otomatis Ali tinggal bersama Fatimah. Mereka berdua tinggal dan melewati hari-hari bersama sejak kecil. Hingga menjelang remaja ternyata tumbuhlah rasa cinta Ali kepada Fatimah. Hatinya dipenuhi keinginan untuk selalu berada disamping Fatimah, tapi Ali tidak bodoh, ia adalah pemuda yang beriman. Ali berusaha untuk selalu menjaga hatinya, ia pendam rasa cinta itu bertahun-tahun, ia simpan rasa itu jauh didalam lubuk hatinya bahkan si Fatimah pun tidak pernah tahu bahwa Ali menyimpan lama rasa cinta yang luar biasa untuknya.

Hingga ketika Ali telah dewasa dan telah siap untuk menikah, maka Ali pun berniat menghadap Rasul dengan tujuan ingin melamar putri Rasul yang tak lain adalah Fatimah, seorang perempuan yang sudah lama Ali kagumi. Tapi sayang ternyata niat Ali telah didahului oleh Abu Bakar yang sudah duluan melamar Fatimah. Ali pun harus ikhlas bahwa cintanya selama ini berakhir pupus. Apalagi Abu Bakar adalah sahabat setia Rasul yang sangat sholeh dan begitu sayang kepada Rasul, dan rasul pun menyayangi beliau pula. Sedangkan Ali merasa dirinya hanyalah seorang  pemuda yang miskin, sungguh jauh bila di bandingkan dengan seorang mulia seperti Abu Bakar pikirnya.

Rencana Allah memang sulit ditebak oleh manusia, ternyata Rasul hanya diam ketika Abu Bakar melamar putri beliau, yang maksudnya Rasul menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali pun senang, karena masih merasa memiliki kesempatan melamar Fatimah. Maka Ali pun bergegas ingin segera melamar Fatimah sebelum didahului lagi. Namun sungguh sayang sekali, lagi-lagi Ali terdahului lagi oleh Umar. Lagi-lagi hati Ali tersayat, Ali sangat bersedih. Sama seperti dengan Abu Bakar, Ali merasa tak ada harapan lagi, lagipula apakah cukup dengan cinta ia akan melamar Fatimah, karena ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengharapkan seorang putri Rasul yang luar biasa, berbeda bila dibandingkan dengan Umar seorang keturunan bangsawan yang gagah dan berkharisma, dan Ali yaki Fatimah pasti akan bahagia bersama Umar, maka Ali pun hanya bisa bertawakal kepada Allah, semoga dikuatkan dengan derita cinta yang sedang dialaminya. Kali ini Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar menghadapi kenyataan itu. Namun Ali adalah pemuda yang sholeh, ia pun yakin Allah Maha Adil, pasti Allah sudah mempersiapkan pendamping hidup baginya. Derita cinta memang menyakitkan. “Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah diatas cintaku” bisik Ali dalam hati.

Disaat Ali merasakan derita cintanya,  tak disangka-sangka datanglah Abu Bakar dengan senyum indahnya, dan memberitahu Ali untuk segera bertemu dengan Rasul karena ada yang ingin beliau sampaikan. Pikir Ali pasti ini tentang pernikahan Umar dengan Fatimah, sepertinya Rasul meminta Ali untuk membantu persiapan pernikahan mereka. Maka Ali pun menyemangati dirinya sendiri agar kuat dan tegar, walaupun sebenarnya hatinya sangat perih teriris-iris harus membantu mempersiapkan dan menyaksikan pujaan hatinya menikah dengan orang lain.

Sungguh rencana Allah memang yang paling indah, Setelah Ali bertemu Rasul, tak disangka ternyata lamaran Umar bernasib sama dengan lamaran Abu Bakar, bahkan Rasul menginginkan Ali untuk menjadi suami Fatimah. Karena Rasul sudah lama tahu bahwa Ali telah lama memendam rasa cinta kepada putrinya. Ali pun sangat bahagia dan bersyukur, ia pun langsung melamar Fatimah melalui Rasul. Tapi Ali malu kepada Rasul karena ia tak memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar. Apalagi ia selama ini dihidupi oleh Rasul sejak kecil. Namun sungguh mulia akhlak Rasul, beliau tidak membebankan Ali, Rasul berkata bahwa nikahilah Fatimah walaupun hanya bermahar cincin besi. Akhirnya Ali menyerahkan baju perangnya untuk melamar Fatimah, Rasul pun menerima lamaran itu, Fatimah pun mematuhi ayahnya serta siap menikah dengan Ali. Akhirnya Ali pun menikah dengan Fatimah, perempuan yang telah lama ia cintai.

Sekarang Fatimah telah menjadi istri Ali, mereka telah halal satu sama lain. Beberapa saat setelah menikah dan siap melewati awal kehidupan bersama yaitu malam pertama yang indah hingga menjalani hari-hari selanjutnya bersama,Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu, aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu…”.

Ali pun menjawab, “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”.

Fatimah pun berkata lagi dengan lembut, “ Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tangga kita…”.

Kata Ali, “ Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu..”.

Fatimah pun berkata, “Wahai Ali suamiku, maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah…”

Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah. Tapi Ali juga terkejut dan sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa bersalah karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah, Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.

Namun Ali memang sungguh pemuda yang sangat baik hati, ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah, tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa tidak tega jika hati Fatimah terluka, karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan didalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi disisi lain Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak, ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.

Fatimah pun lalu berkata, “ Wahai Ali suamiku sayang, Astagfirullah maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu.”

Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu. Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang… aku menantimu Ali…”

Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu, kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku… Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti, aku begitu merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku…”.

Fatimah pun tersenyum haru mendengar kata-kata Ali, Ali diam sesaat sambil merenung, tak terasa mata Ali pun mulai keluar airmata, lalu dengan sangat tulus Ali berkata lagi, “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikitpun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini juga agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas, lagipula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu, karena ia pasti akan membahagiakanmu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan, sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela…

Dan Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, cinta yang dilandaskan keimanan yang begitu kuat. Ketika itu juga Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “ Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu, namun ijinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”

Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu, “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.” Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya.

Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali, awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah…”

Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya” Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah?, sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”

Fatimah lalu memeluk mersa lagi lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin menodai anugrah cinta yang Allah berikan ini, aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku, ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya…”

Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi dia hanya diam saja, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…”

Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…???”

Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”

Lalu langsung berubah mimik wajah Ali menjadi sangat bahagia dan membalas pelukan Fatimah dengan dekapan yang lebih mesra. Mereka masih agak malu-malu, saling bertatapan lalu tersenyum dan tertawa cekikikan karena tak habis pikir dengan ulah masing-masing, bererita tentang kenangan-kenangan masa lalu dan berbagai hal. Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan indah dalam dekapan Mahabbah-Nya yang suci. Subhanallah.

Ali dan Fatimah pun menjalani rumah tangga mereka dengan suka maupun duka, Dan buah cinta dari pernikahan Ali dan Fatimah adalah putra tampan bernama Hasan dan Husin, mereka berdua adalah anak yang sangat disayangi orangtuanya dan disayangi Rasul, kakek mereka. Juga disayangi keluarga Rasul yang lain tentunya. Mereka berdua nantinya juga menjadi tokoh dan pejuang Islam yang luar biasa.

Selama berumah tangga, Ali sangat setia dengan Fatimah, ia tak memadu Fatimah. Cintanya Ali memang untuk Fatimah, begitupun cinta Fatimah memang untuk Ali, mereka juga bersama-sama hidup mulia memperjuangkan Islam. Hingga hari itu pun tiba, semua yang hidup pasti akan kembali ke sisi-Nya. Ali, Hasan dan Husin dilanda kesedihan, Fatimah terlebih dahulu wafat, meninggalkan suami, anak-anak dan orang-orang yang mencintai dan dicintainya.

Itulah kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad, subhanallah, Allah memang Maha Adil, rencana dan skenario-Nya sangat indah. Ada beberapa hikmah dari kisah cinta mereka. Ketika Ali merasa belum siap untuk melangkah lebih jauh dengan Fatimah, maka cukup Ali mencintai Fatimah dengan diam.  Karena diam adalah satu bukti cinta pada seseorang, diam memuliakan kesucian diri dan hati sendiri dan orang yang dicintai, sebab jika suatu cinta diungkapkan namun belum siap untuk mengikatnya dengan ikatan yang suci, bisa saja dalam interaksinya akan tergoda lalu terjerumus kedalam maksiat, Naudzubillah…, Biarlah cinta dalam diam menjadi hal indah yang bersemayam disudut hati dan menjadi rahasia antara hati sendiri dan Allah Sang Maha Penguasa Hati. Yakinlah Allah Maha Tahu para hamba yang menjaga hatinya, Allah juga telah mempersiapkan imbalan bagi para penjaga hati, imbalan itu tak lain adalah hati yang terjaga.

Semoga kisah ini bermanfaat bagi para insan yang merindukan cinta suci karena-Nya, yang sedang berikhtiar sekuat hatinya, dan yang saat ini menanti dengan sabar demi menyambut jalan cinta yang diridhoi-Nya. Mohon maaf apabila ada esensi kisah yang kurang pas dengan aslinya. Mohon diluruskan jika ada redaksi kisah yang salah dari saya. Sesungguhnya kebenaran berasal dari Allah dan segala khilaf maupun salah berasal dari manusia seperti saya. Wallahu’alam bishowab.

Bayi Surga dan Bayi Dunia

Bayi

Kebahagiaan terbesar bagi para pasangan baru adalah saat akan menjadi orang tua, saat Allah menitipkan amanah nan begitu indah yang bisa menciptakan surga kecil pada bahtera rumah tangga mereka. Itu juga yang dirasakan salah satu pasangan yang sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Sang suami waktu itu sedang menunggu Surat Keputusan (SK) penempatan kerjanya, sebelum SK keluar, waktu senggang diisi oleh sang suami dengan kerja sambilan, lumayan buat tambahan persiapan persalinan si kecil yang sudah dinantikan. Sang istri pun tak kalah semangat, semampunya tetap bekerja sampai masa cuti hamil tiba. Berbagai perlengkapan bayi pun mulai dicicil satu persatu, mulai dari baju, popok, selimut dan tetek bengek yang lainnya. Hanya tinggal menghitung waktu kelahiran, menunggu mimpi dan angan-angan menimang buah hati yang begitu dinanti.

Namun bukannya mimpi yang menjadi kenyataan, malah hal yang tak diharapkanlah yang menjadi kenyataan. Allah menguji keikhlasan pasangan muda itu, menguji kesabaran suami istri itu. Sang istri keguguran, si bayi lahir ke dunia dengan keadaan tak bernyawa. Tak terbayangkan begitu hancurnya hati seorang ibu ketika menghadapi kenyataan bayi yang dilahirkannya terdiam kaku, apalagi itu adalah kelahiran yang pertama. Hati suami pun terasa sangat perih, angan-angan menjadi seorang ayah pupus seketika.

Perlu waktu untuk benar-benar mengikhlaskan sang buah hati yang tak sempat melihat dunia dan langsung dipanggil Rabbnya itu. Tapi suami istri tersebut tak mau tenggelam dalam duka. Dukungan dari keluarga, kerabat,  sahabat, saudara dan teman pun berdatangan menguatkan hati yang rapuh itu. Sedih boleh tapi tak boleh berlarut-larut, suami istri itu yakin bahwa Allah akan memberikan buah hati lagi untuk mereka. Ikhtiar dan doa pun selalu mereka lakukan agar Allah wujudkan angan yang sempat pupus.

“Duhai Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami titipkan di sisi-Mu Habib buah hati kami yang tersayang…”. Bayi itu diberi nama Habib, artinya “Yang Tersayang” dan ia telah menjadi Bayi Surga.

Kesedihan telah menjadi kenangan, tergantikan dengan harapan-harapan yang baru. Setelah melahirkan Habib, sang istri melanjutkan cuti sampai seterusnya, sebut saja sang istri mengundurkan diri dari pekerjaannya di suatu Departement Store terbesar di kota mereka tinggal. Bukan tanpa alasan sang istri mengundurkan diri, saat itu SK sang suami sudah keluar dan mendapatkan penempatan kerja di pulau seberang. Pulau tersebut adalah Pulau Kalimantan, seberang utara Pulau Jawa yang mereka tinggali saat ini. Kehidupan di kota yang baru pun dimulai.

***

Sebuah rumah kontrakan sederhana, berdinding dan berlantai kayu serta berbentuk rumah panggung khas Kalimantan yang terletak di pinggiran salah satu kota di pulau itu sedang ramai dikunjungi kerabat, sanak saudara dan para tetangga, maklum sedang ada acara syukuran “Nujuh Bulanan”, Semacam kebudayaan merayakan kehamilan yang telah memasuki usia tujuh bulan, tradisi yang terdiri dari berbagai ritual dan doa-doa dengan tujuan agar si ibu selalu sehat dan bayi dalam kandungan lahir dengan selamat. Apalagi kelahiran bayi ini begitu diharapkan setelah gagal dalam kelahiran sebelumnya.

Sebenarnya sang suami kurang setuju dengan budaya-budaya seperti itu, ritual-ritualnya bisa tergolong dalam amalan bid’ah. Tapi sang suami meniatkan itu sebagai acara syukuran dan berbagi kebahagiaan bersama orang-orang sekitar serta menghormati usulan orang tua angkat pasangan suami istri tersebut yang merupakan penduduk asli di daerah itu. Begitulah hidup di perantauan, harus pintar-pintar menyikapi berbagai macam hal.

Acara Nujuh Bulanan telah selesai, para undangan telah meninggalkan acara, tiba-tiba cairan bening membasahi sekujur kaki sang istri. Tidak salah lagi cairan itu adalah air ketuban. Sang istri begitu terkejut, mengingat usia kandungan yang baru tujuh bulan, sungguh tak wajar ketuban telah pecah, harusnya itu terjadi pada saat usia kandungan sembilan bulan ketika sudah saatnya bayi untuk lahir. Trauma masa lalu pun menghampiri, takut kehilangan sang buah hati untuk yang kedua kalinya. Menyaksikan kejadian itu sang istri langsung pucat lalu memanggil suaminya, dan sang suami bergegas meminta bantuan orang tua angkat mereka yang tinggal di sebelah rumah serta bantuan tetangga sekitar, sekaligus mencari bidan untuk segera melakukan proses persalinan.

“Masih ada harapan, ini kelahiran prematur, banyak kelahiran prematur yang berhasil. Bayi ini masih bisa dilahirkan dengan selamat!” sang bidan meyakinkan. Sang suami harap-harap cemas mendampingi istrinya sembari melantunkan doa-doa di dalam hati, sementara itu sang istri berjuang dengan nyawanya, keringat yang bercucuran, rasa sakit yang begitu perih dan badan yang bersimbah darah demi sang buah hati yang dinantikan. Akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki dari rahim sang istri. Sang istri pun bisa bernafas lega, rasa syukur pun terucap. Begitu pula dengan sang suami, bidan dan semua orang yang membantu persalinan juga memanjatkan syukur.

Tapi ada yang aneh dengan bayi itu, tubuhnya begitu mungil karena terlahir lebih cepat daripada kelahiran bayi normal. Selain tubuhnya yang begitu mungil yang panjangnya tak lebih seukuran telapak sampai siku orang dewasa, ia juga tidak menangis saat dilahirkan, hanya diam. Kulitnya pun berwarna sangat merah dan tak ada sehelai rambut pun yang tumbuh. Si Bayi lahir tidak sempurna. Astagfirullah, tak terbayangkan bagaimana perasaan suami istri tersebut. Semua orang menjadi cemas, terutama sang istri yang entah harus bagaimana lagi. Lalu dengan sigap sang bidan mengangkat tubuh bayi dan menepuk-nepuk punggungnya, mungkin ada air ketuban yang menyedak kerongkongan si bayi. Ternyata benar, setelah sang bidan melakukan tindakan, bayi itu pun menangis “owe”, tapi hanya sekali “owe” itu saja, lalu kembali diam. Namun bayi itu telah bernafas. Dia hidup! Seorang bayi telah lahir ke dunia. Semuanya pun lega. Alhamdulillah. Bayi itu diberi nama Syakur yang artinya “Syukur” ia terlahir sebagai Bayi Dunia.

***
Di satu sisi suami istri itu sangat bersyukur, akhirnya kali ini mereka memiliki buah hati dan telah menjadi orangtua sehingga lengkaplah keberkahan pernikahan mereka, di sisi lain ada kesedihan yang tak bisa disembunyikan ketika melihat bayi mereka lahir berbeda. Selama beberapa bulan bayi itu selalu tidur, ketika bangun pun itu hanya sebentar jika ingin menyusui atau buang air, namun matanya tetap terpejam. Si Bayi juga sangat jarang menangis. Orang tuanyalah yang menangis, yang mungkin airmata mereka telah habis, hingga batin merekalah yang menangis.

Muncul berbagai prasangka, khawatir  bayi mereka akan tumbuh cacat. Astagfirullah, dibuang jauh-jauh prasangka itu. Mereka yakin Allah Maha Adil. Sang istri berusaha tegar selalu menjaga disamping buah hati tercintanya. Sang suami pun berusaha lebih sabar, sebab sang suami tak boleh terlihat sedih dan ia harus menguatkan hati istrinya.

Allah memang Maha Adil, perlahan bayi mungil itu tumbuh dan berkembang dengan baik, malah lebih pesat dari bayi normal. Tumbuh menjadi bayi yang lucu dan sehat. Kesabaran dan ketegaran suami istri tersebut pun berbuah kebahagiaan. Menjadi pelipur lara kenangan tentang anak pertama mereka.

“Duhai Allah Yang Maha Pengasih, Berjuta puja dan puji untuk Engkau atas rasa syukur dan rasa terima kasih…”

***

Bayi Dunia itu adalah aku, perkenalkan namaku adalah Amru (El-)Aziz(y) Shobbarin Syakur Yunus, adik dari Habib si Bayi Surga, anak dari orang tua yang luar biasa. Semoga kisah ini bisa menjadi sedikit penentram hati bagi mereka yang sedang menantikan Bayi Dunia, mereka yang bayinya telah menjadi Bayi Surga dan mereka para Bayi Dunia yang terlahir berbeda seperti aku. Mudah-mudahan Allah berkahi kita semua. Aaamiin.

Tulisan ini pernah dimuat di dakwatuna.com, link : http://www.dakwatuna.com/2014/04/28/50462/bayi-surga-dan-bayi-dunia/#axzz30CGbQqKv

Memo Harapan

memo

Tuliskan saja harapannya, Allah akan mewujudkannya.
Ya, Allah yg akan mewujudkan, bahkan dengan cara yangg tidak terduga.

Aku punya sebuah memo, isinya catatan kecil daftar harapan-harapan (mimpi) yang ingin kugapai. Mungkin bagi orang lain cuma keinginan sederhana yangg tak ada istimewanya. Bisa jadi juga ada orang yang mencibirnya. Biarkan dan abaikan saja kata orang. Lagipula ini hidupku. Tapi bagiku semua itu adalah mimpi besar. Rencana masa depan.

Tak perduli jika harapan itu serasa tak mungkin terwujud, tetap kutulis. Dan ajaib, tak ada yangg tidak mungkin bagi Allah.  Alhamdulillah sekarang satu-persatu harapan itu terwujud.

Memang ada harapan yang tertunda dan/atau belum terwujud. Tapi kuyakin Allah selalu punya rencana indah untuk hidup ini.

Ketika Allah mengabulkan keinginan, berarti aku sudah pantas untuk mendapatkannya.
Jika Allah tidak mengabulkan, berarti Allah sudah mempersiapkan yang lebih baik.
Bila Allah belum mengabulkan, berarti aku harus bersabar atau belum waktunya kudapati itu.

Mungkin itu saja, sesuatu yang berawal dari catatan kecil sederhana. Jangan berhenti berharap, jangan takut bermimpi hal besar, kita selalu punya Allah yang siap mewujudkan.
Harapan itu doa, dan doa adalah tanda iman kita kepada Allah.

Jadi, apa harapanmu? Mana mimpi kalian?
Tuliskan saja, biarkan skenario langit bekerja dan semesta membuka jalan tercapainya.

Jadi, Siapa Dong Yang Salah?

Masjid Raya At-Taqwa Cirebon (wikipedia.com)

Siang ini di Kota Cirebon matahari bersinar dengan semangat, sampai-sampai membuat keringat para penghuni kota ini banyak yang bercucuran, termasuk aku. Apalagi sambil puasa seperti ini, pasti membuat dahaga semakin terasa. Tapi bersabarlah, aku yakin bahwa Allah itu Maha Penyayang, insya Allah rasa dahaga itu akan dibalas Allah dengan pahala yang setimpal.

Ternyata lelah juga menemani saudaraku mengarungi pusat-pusat perbelanjaan di Kota Cirebon, buat keperluan lebaran ama pesanan teman-teman dia katanya. Walau lelah tapi senang juga sih, soalnya aku juga kecipratan rezeki darinya. Di tengah-tengah pengembaraan kami tiba-tiba adzan Zhuhur berkumandang, kami pun berinisiatif untuk shalat Zhuhur dulu sembari istirahat sebelum melanjutkan lagi pengembaraan kami. Dan kami memilih Masjid At-Taqwa untuk melaksanakan shalat Zhuhur.

Masjid At-Taqwa merupakan masjid terbesar di Kota Cirebon, masjid ini juga salah satu masjid yang bersejarah di kota ini. Terletak di pusat Kota Cirebon, sehingga setiap harinya masjid ini selalu dikunjungi banyak orang, biasanya oleh orang-orang yang melepas lelah dari perjalanannya, entah itu mereka yang sedang jalan-jalan seperti kami atau mereka yang sedang melakukan perjalanan mudik menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur. Di Masjid ini juga ada menara yang bisa dinaiki oleh siapa saja, cukup dengan membayar beberapa ribu rupiah kita bisa melihat sekeliling Kota Cirebon dari menara masjid ini. Selain itu di saat Ramadhan seperti ini di sekeliling masjid juga ada baazar-baazar yang menjual aneka makanan, pakaian, souvenir dll. Jelaslah masjid ini nyaman untuk tempat shalat dan beristirahat, karena bangunannya juga megah dan indah.

Selesai shalat dan tilawah sebentar, aku memilih untuk duduk di teras masjid sambil bersandar di salah satu tiang masjid sembari melihat-lihat orang-orang di sekeliling teras masjid, ada yang sedang menunggu temannya, bercanda dengan anaknya, tidur, mengobrol dll. Sementara saudaraku memilih untuk melihat-lihat bazaar. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada dua cewek manis yang sedang mengobrol, apalagi mereka menggunakan pakaian yang seksi, bagaimana tidak, cewek yang satu memang sih pakai kemeja lengan panjang dan agak longgar tapi celananya itu pendek banget, sampai pahanya terlihat jelas. Lalu cewek yang satunya memakai celana panjang jeans warna grey dan kaos lengan panjang warna putih, tapi tetap saja celana dan kaosnya itu ketat banget mana tipis lagi. Astaghfirullah, teringat kata ustadz, “kalau kita tidak sengaja memandang, pandangan yang pertama adalah nikmat, tapi pandangan yang selanjutnya adalah laknat, tapi jangan mentang-mentang yang pertama nikmat lalu sengaja kita lama-lamain…”, langsung cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ke objek lain. “Hmm, ga mikir apa ya tu cewe-cewe, emang sih cuacanya panas tapi ga bisa pake pakaian yang lebih sopan apa, mana di sekitar masjid ama bulan puasa kaya gini”, ucapku dalam hati. Hoamm… Rasa kantuk pun menghampiriku. Daripada melihat sana-sini nanti ngelihat yang aneh-aneh lagi aku memilih memejamkan mata sambil menunggu saudaraku.

Di saat mata ini sedang kiyep-kiyep, tiba-tiba ada dua anak lelaki duduk di dekatku. Lalu mereka saling mengobrol. Melihat dari pakaiannya yang berwarna putih abu-abu sudah bisa ditebak pasti mereka anak SMA. Sepertinya baru pulang sekolah, soalnya kalo bulan Ramadhan para siswa sekolah dipulangkan lebih awal. Tapi aku kurang tahu mereka dari SMA mana, soalnya mereka pakai jaket sih jadi label di seragamnya tidak kelihatan. Dilihat dari tampang dan jaketnya, sepertinya salah satu dari mereka adalah anak ROHIS / DKM di sekolahnya, jaketnya ada bendera Palestina, hehehe ciri khas jaket anak-anak ROHIS, DKM, LDK dan organisasi-organisasi remaja Islam seperti biasanya. Sedangkan anak yang satunya sepertinya anak band, soalnya tampangnya necis banget.

Awalnya aku tidak terlalu menghiraukan mereka, aku memilih untuk konsentrasi agar mata ini terpejam dengan nyaman. Namun susah juga untuk tertidur nyenyak apalagi dua anak SMA ini ga habis-habis ngobrolnya, sepertinya yang dibahas seru juga nih. Walau mataku terpejam, diam-diam aku mendengarkan obrolan mereka. Sampai aku pun jadi tahu nama mereka, yang tampangya anak band itu namanya Sakti yang ternyata anak ROHIS juga, tapi baru saja bergabung, terus yang satunya bernama Nabil.

Di tengah-tengah percakapan mereka, aku mendengar obrolan yang menarik.

Sakti: “Seneng Bil aku bisa ikut ROHIS, ternyata seru juga. Coba ga ada kamu, aku bakalan malu soalnya cuma ama kamu aku akrabnya. Eh Bil, coba lihat arah jam 2, ada cewek manis tuh, seksi lagi, hehehe.”

Nabil: “Alhamdulillah. Nyantai aja Ti, kita kan udah sohib dari kecil. Wah ga inget kamu Ti, kita kan sedang puasa nih…”

Sakti: “Astaghfirullah iya ya.., susah deh kalo jalan ama ketua ROHIS.”

Nabil: “Jangan sebut merek dong, biasa aja dong Ti, hehe…”

Sakti: “Sorry Bil becanda hehe, tapi perasaan walaupun ga puasa juga kamu kalo lagi jalan atau papasan ama cewek, kamu sering tunduk. Kenapa sih Bil?”

Nabi: “Ga papa kok, Cuma lagi belajar ghadul bashor (menjaga pandangan) aja…”

Sakti: “Maksudnya?”

Nabil: “Kan udah ada haditsnya, kamu udah tahu kan?”

Sakti: “Iya tau, kan kemaren pas mentoring ngebahas hadits ini, cuma kemaren aku belum ngeh, abisnya pas aku mau nanya ama ustadznya keduluan terus ama yang lain. Tapi kenapa kamu sering tunduk, aku lihat ustadz-ustadz dalam menjaga pandangan ga segitunya sampai tunduk-tunduk kaya kamu tuh…”

Nabil: “Ya beda lah, aku kan masih remaja, otomatis nafsu ke lawan jenis sering bergejolak terus masih belum bisa mengontrol dengan baik. Kalo ustadz kan Insya Allah sudah bisa mengontrol dengan baik. Terus kalo ustadz kan kebanyakan sudah punya istri, jadi kalo pengen tinggal merayu istri aja, terus jadi pahala hehe… Nah kalo aku mau merayu siapa? Yang ada juga malah jadi dosa… Atau aku merayu kamu aja lah Ti hahahaha…”

Sakti: “Iya juga Bil, remaja kaya kita masih sering bergejolak nafsunya. Ih ogah banget dirayu kamu hahaha… Tapi gimana kalo ada cewek yang pake baju seksi, bukan salah kita dong kalo kita ga sengaja ngeliat, salah mereka sendiri dong yang pake baju seksi kaya cewe-cewe arah jam 2 tadi hehe…”

Nabil: “Tetap aja kita salah. Kalo ga sengaja sih ga papa, tapi jangan pura-pura ga sengaja jadinya ngeliatin melulu.”

Sakti: “Jadi yang salah siapa? Ga adil dong kalo sama-sama salah…”

Nabil: “Tergantung kondisinya, kalo yang ngelihat udah tau yang dia lihat ga baik tapi masih dilanjutin ya salah dong, trus yang pake baju seksi udah tahu kalo itu kurang sopan ya salah juga dong…”

Sakti: “Betul… betul… betul… Hmm Bil, coba aja para cewek tau apa yang dipikirkan oleh kebanyakan cowo kalo mereka pake baju seksi, aku yakin pasti para cewek ga bakalan mau lagi pake baju seksi. Kecuali tu cewek yang emang genit dan niatnya mau pamer aset yang dia punya…”

Nabil: “Subhanallah, iya juga ya, pinter juga kamu Ti hehe…”

Sakti: “Ya iyalah, Sakti gitu loh, kata-katanya juga harus sakti dong… hahaha”

Nabil: “Makanya Ti, aku tu seneng banget kalo liat cewek yang pake jilbab, apalagi kalo ngeliat akhwat, anggun banget dengan jilbab lebar mereka…”

Sakti: “Nah lo, hayo mikirin akhwat… lagi puasa lho hahaha…”

Nabil: “Ah kamu gitu lah Ti…”

Sakti: “Sorry bro, guyon dikit boleh dong…hahaha, Bil, makasih ya!”

Nabil: “Makasih atas apa Ti?”

Sakti: “Makasih udah mau jadi sahabat aku sampai sekarang, udah sabar sering nasehatin aku dan makasih udah memperkenalkan aku dengan ROHIS. Kalo ga, mungkin aku tiap malam masih suka keluyuran”

Nabil: “Iya Ti sama-sama, jangan makasih ke aku, makasihnya ke Allah, aku cuma perantara-Nya aja kok.”

Sakti: “Halah lebay kamu Bil, eh Bil balik sekarang yuk?”

Nabil: “Oke…”

Setelah anak-anak SMA itu pulang, aku merasakan ada orang duduk tepat di sampingku. Waduh, deg-degan juga, firasatku ga enak, aku pun tetap memejamkan mata. Tiba-tiba orang itu menyolek bahuku dan memanggilku, eh ternyata saudaraku.

“Kamu tidurnya enak banget, cape ya?”, kata saudaraku.

“Hehe ga kok Mas cuma rada ngantuk aja, udah lihat-lihat baazarnya?”, jawabku sambil nyengir.

“Udah kok, oiya mana kunci motornya? Biar Mas aja yang bawa motornya, soalnya kamu kayaknya masih ngantuk ntar naik motornya malah akrobat hehe, tapi kamu yang bawain barang-barang ya!”, kata saudaraku.

“Oke, siap Bos hehe…”, sahutku.

Aku dan saudaraku pun kembali mengembara menyusuri tempat-tempat belanja

 

Tulisan ini pernah dimuat di dakwatuna.com, link
http://www.dakwatuna.com/2013/11/08/41902/jadi-siapa-dong-yang-salah/#ixzz305PNBavu