Bayi Surga dan Bayi Dunia

Bayi

Kebahagiaan terbesar bagi para pasangan baru adalah saat akan menjadi orang tua, saat Allah menitipkan amanah nan begitu indah yang bisa menciptakan surga kecil pada bahtera rumah tangga mereka. Itu juga yang dirasakan salah satu pasangan yang sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Sang suami waktu itu sedang menunggu Surat Keputusan (SK) penempatan kerjanya, sebelum SK keluar, waktu senggang diisi oleh sang suami dengan kerja sambilan, lumayan buat tambahan persiapan persalinan si kecil yang sudah dinantikan. Sang istri pun tak kalah semangat, semampunya tetap bekerja sampai masa cuti hamil tiba. Berbagai perlengkapan bayi pun mulai dicicil satu persatu, mulai dari baju, popok, selimut dan tetek bengek yang lainnya. Hanya tinggal menghitung waktu kelahiran, menunggu mimpi dan angan-angan menimang buah hati yang begitu dinanti.

Namun bukannya mimpi yang menjadi kenyataan, malah hal yang tak diharapkanlah yang menjadi kenyataan. Allah menguji keikhlasan pasangan muda itu, menguji kesabaran suami istri itu. Sang istri keguguran, si bayi lahir ke dunia dengan keadaan tak bernyawa. Tak terbayangkan begitu hancurnya hati seorang ibu ketika menghadapi kenyataan bayi yang dilahirkannya terdiam kaku, apalagi itu adalah kelahiran yang pertama. Hati suami pun terasa sangat perih, angan-angan menjadi seorang ayah pupus seketika.

Perlu waktu untuk benar-benar mengikhlaskan sang buah hati yang tak sempat melihat dunia dan langsung dipanggil Rabbnya itu. Tapi suami istri tersebut tak mau tenggelam dalam duka. Dukungan dari keluarga, kerabat,  sahabat, saudara dan teman pun berdatangan menguatkan hati yang rapuh itu. Sedih boleh tapi tak boleh berlarut-larut, suami istri itu yakin bahwa Allah akan memberikan buah hati lagi untuk mereka. Ikhtiar dan doa pun selalu mereka lakukan agar Allah wujudkan angan yang sempat pupus.

“Duhai Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami titipkan di sisi-Mu Habib buah hati kami yang tersayang…”. Bayi itu diberi nama Habib, artinya “Yang Tersayang” dan ia telah menjadi Bayi Surga.

Kesedihan telah menjadi kenangan, tergantikan dengan harapan-harapan yang baru. Setelah melahirkan Habib, sang istri melanjutkan cuti sampai seterusnya, sebut saja sang istri mengundurkan diri dari pekerjaannya di suatu Departement Store terbesar di kota mereka tinggal. Bukan tanpa alasan sang istri mengundurkan diri, saat itu SK sang suami sudah keluar dan mendapatkan penempatan kerja di pulau seberang. Pulau tersebut adalah Pulau Kalimantan, seberang utara Pulau Jawa yang mereka tinggali saat ini. Kehidupan di kota yang baru pun dimulai.

***

Sebuah rumah kontrakan sederhana, berdinding dan berlantai kayu serta berbentuk rumah panggung khas Kalimantan yang terletak di pinggiran salah satu kota di pulau itu sedang ramai dikunjungi kerabat, sanak saudara dan para tetangga, maklum sedang ada acara syukuran “Nujuh Bulanan”, Semacam kebudayaan merayakan kehamilan yang telah memasuki usia tujuh bulan, tradisi yang terdiri dari berbagai ritual dan doa-doa dengan tujuan agar si ibu selalu sehat dan bayi dalam kandungan lahir dengan selamat. Apalagi kelahiran bayi ini begitu diharapkan setelah gagal dalam kelahiran sebelumnya.

Sebenarnya sang suami kurang setuju dengan budaya-budaya seperti itu, ritual-ritualnya bisa tergolong dalam amalan bid’ah. Tapi sang suami meniatkan itu sebagai acara syukuran dan berbagi kebahagiaan bersama orang-orang sekitar serta menghormati usulan orang tua angkat pasangan suami istri tersebut yang merupakan penduduk asli di daerah itu. Begitulah hidup di perantauan, harus pintar-pintar menyikapi berbagai macam hal.

Acara Nujuh Bulanan telah selesai, para undangan telah meninggalkan acara, tiba-tiba cairan bening membasahi sekujur kaki sang istri. Tidak salah lagi cairan itu adalah air ketuban. Sang istri begitu terkejut, mengingat usia kandungan yang baru tujuh bulan, sungguh tak wajar ketuban telah pecah, harusnya itu terjadi pada saat usia kandungan sembilan bulan ketika sudah saatnya bayi untuk lahir. Trauma masa lalu pun menghampiri, takut kehilangan sang buah hati untuk yang kedua kalinya. Menyaksikan kejadian itu sang istri langsung pucat lalu memanggil suaminya, dan sang suami bergegas meminta bantuan orang tua angkat mereka yang tinggal di sebelah rumah serta bantuan tetangga sekitar, sekaligus mencari bidan untuk segera melakukan proses persalinan.

“Masih ada harapan, ini kelahiran prematur, banyak kelahiran prematur yang berhasil. Bayi ini masih bisa dilahirkan dengan selamat!” sang bidan meyakinkan. Sang suami harap-harap cemas mendampingi istrinya sembari melantunkan doa-doa di dalam hati, sementara itu sang istri berjuang dengan nyawanya, keringat yang bercucuran, rasa sakit yang begitu perih dan badan yang bersimbah darah demi sang buah hati yang dinantikan. Akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki dari rahim sang istri. Sang istri pun bisa bernafas lega, rasa syukur pun terucap. Begitu pula dengan sang suami, bidan dan semua orang yang membantu persalinan juga memanjatkan syukur.

Tapi ada yang aneh dengan bayi itu, tubuhnya begitu mungil karena terlahir lebih cepat daripada kelahiran bayi normal. Selain tubuhnya yang begitu mungil yang panjangnya tak lebih seukuran telapak sampai siku orang dewasa, ia juga tidak menangis saat dilahirkan, hanya diam. Kulitnya pun berwarna sangat merah dan tak ada sehelai rambut pun yang tumbuh. Si Bayi lahir tidak sempurna. Astagfirullah, tak terbayangkan bagaimana perasaan suami istri tersebut. Semua orang menjadi cemas, terutama sang istri yang entah harus bagaimana lagi. Lalu dengan sigap sang bidan mengangkat tubuh bayi dan menepuk-nepuk punggungnya, mungkin ada air ketuban yang menyedak kerongkongan si bayi. Ternyata benar, setelah sang bidan melakukan tindakan, bayi itu pun menangis “owe”, tapi hanya sekali “owe” itu saja, lalu kembali diam. Namun bayi itu telah bernafas. Dia hidup! Seorang bayi telah lahir ke dunia. Semuanya pun lega. Alhamdulillah. Bayi itu diberi nama Syakur yang artinya “Syukur” ia terlahir sebagai Bayi Dunia.

***
Di satu sisi suami istri itu sangat bersyukur, akhirnya kali ini mereka memiliki buah hati dan telah menjadi orangtua sehingga lengkaplah keberkahan pernikahan mereka, di sisi lain ada kesedihan yang tak bisa disembunyikan ketika melihat bayi mereka lahir berbeda. Selama beberapa bulan bayi itu selalu tidur, ketika bangun pun itu hanya sebentar jika ingin menyusui atau buang air, namun matanya tetap terpejam. Si Bayi juga sangat jarang menangis. Orang tuanyalah yang menangis, yang mungkin airmata mereka telah habis, hingga batin merekalah yang menangis.

Muncul berbagai prasangka, khawatir  bayi mereka akan tumbuh cacat. Astagfirullah, dibuang jauh-jauh prasangka itu. Mereka yakin Allah Maha Adil. Sang istri berusaha tegar selalu menjaga disamping buah hati tercintanya. Sang suami pun berusaha lebih sabar, sebab sang suami tak boleh terlihat sedih dan ia harus menguatkan hati istrinya.

Allah memang Maha Adil, perlahan bayi mungil itu tumbuh dan berkembang dengan baik, malah lebih pesat dari bayi normal. Tumbuh menjadi bayi yang lucu dan sehat. Kesabaran dan ketegaran suami istri tersebut pun berbuah kebahagiaan. Menjadi pelipur lara kenangan tentang anak pertama mereka.

“Duhai Allah Yang Maha Pengasih, Berjuta puja dan puji untuk Engkau atas rasa syukur dan rasa terima kasih…”

***

Bayi Dunia itu adalah aku, perkenalkan namaku adalah Amru (El-)Aziz(y) Shobbarin Syakur Yunus, adik dari Habib si Bayi Surga, anak dari orang tua yang luar biasa. Semoga kisah ini bisa menjadi sedikit penentram hati bagi mereka yang sedang menantikan Bayi Dunia, mereka yang bayinya telah menjadi Bayi Surga dan mereka para Bayi Dunia yang terlahir berbeda seperti aku. Mudah-mudahan Allah berkahi kita semua. Aaamiin.

Tulisan ini pernah dimuat di dakwatuna.com, link : http://www.dakwatuna.com/2014/04/28/50462/bayi-surga-dan-bayi-dunia/#axzz30CGbQqKv

Advertisements

Jadi, Siapa Dong Yang Salah?

Masjid Raya At-Taqwa Cirebon (wikipedia.com)

Siang ini di Kota Cirebon matahari bersinar dengan semangat, sampai-sampai membuat keringat para penghuni kota ini banyak yang bercucuran, termasuk aku. Apalagi sambil puasa seperti ini, pasti membuat dahaga semakin terasa. Tapi bersabarlah, aku yakin bahwa Allah itu Maha Penyayang, insya Allah rasa dahaga itu akan dibalas Allah dengan pahala yang setimpal.

Ternyata lelah juga menemani saudaraku mengarungi pusat-pusat perbelanjaan di Kota Cirebon, buat keperluan lebaran ama pesanan teman-teman dia katanya. Walau lelah tapi senang juga sih, soalnya aku juga kecipratan rezeki darinya. Di tengah-tengah pengembaraan kami tiba-tiba adzan Zhuhur berkumandang, kami pun berinisiatif untuk shalat Zhuhur dulu sembari istirahat sebelum melanjutkan lagi pengembaraan kami. Dan kami memilih Masjid At-Taqwa untuk melaksanakan shalat Zhuhur.

Masjid At-Taqwa merupakan masjid terbesar di Kota Cirebon, masjid ini juga salah satu masjid yang bersejarah di kota ini. Terletak di pusat Kota Cirebon, sehingga setiap harinya masjid ini selalu dikunjungi banyak orang, biasanya oleh orang-orang yang melepas lelah dari perjalanannya, entah itu mereka yang sedang jalan-jalan seperti kami atau mereka yang sedang melakukan perjalanan mudik menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur. Di Masjid ini juga ada menara yang bisa dinaiki oleh siapa saja, cukup dengan membayar beberapa ribu rupiah kita bisa melihat sekeliling Kota Cirebon dari menara masjid ini. Selain itu di saat Ramadhan seperti ini di sekeliling masjid juga ada baazar-baazar yang menjual aneka makanan, pakaian, souvenir dll. Jelaslah masjid ini nyaman untuk tempat shalat dan beristirahat, karena bangunannya juga megah dan indah.

Selesai shalat dan tilawah sebentar, aku memilih untuk duduk di teras masjid sambil bersandar di salah satu tiang masjid sembari melihat-lihat orang-orang di sekeliling teras masjid, ada yang sedang menunggu temannya, bercanda dengan anaknya, tidur, mengobrol dll. Sementara saudaraku memilih untuk melihat-lihat bazaar. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada dua cewek manis yang sedang mengobrol, apalagi mereka menggunakan pakaian yang seksi, bagaimana tidak, cewek yang satu memang sih pakai kemeja lengan panjang dan agak longgar tapi celananya itu pendek banget, sampai pahanya terlihat jelas. Lalu cewek yang satunya memakai celana panjang jeans warna grey dan kaos lengan panjang warna putih, tapi tetap saja celana dan kaosnya itu ketat banget mana tipis lagi. Astaghfirullah, teringat kata ustadz, “kalau kita tidak sengaja memandang, pandangan yang pertama adalah nikmat, tapi pandangan yang selanjutnya adalah laknat, tapi jangan mentang-mentang yang pertama nikmat lalu sengaja kita lama-lamain…”, langsung cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ke objek lain. “Hmm, ga mikir apa ya tu cewe-cewe, emang sih cuacanya panas tapi ga bisa pake pakaian yang lebih sopan apa, mana di sekitar masjid ama bulan puasa kaya gini”, ucapku dalam hati. Hoamm… Rasa kantuk pun menghampiriku. Daripada melihat sana-sini nanti ngelihat yang aneh-aneh lagi aku memilih memejamkan mata sambil menunggu saudaraku.

Di saat mata ini sedang kiyep-kiyep, tiba-tiba ada dua anak lelaki duduk di dekatku. Lalu mereka saling mengobrol. Melihat dari pakaiannya yang berwarna putih abu-abu sudah bisa ditebak pasti mereka anak SMA. Sepertinya baru pulang sekolah, soalnya kalo bulan Ramadhan para siswa sekolah dipulangkan lebih awal. Tapi aku kurang tahu mereka dari SMA mana, soalnya mereka pakai jaket sih jadi label di seragamnya tidak kelihatan. Dilihat dari tampang dan jaketnya, sepertinya salah satu dari mereka adalah anak ROHIS / DKM di sekolahnya, jaketnya ada bendera Palestina, hehehe ciri khas jaket anak-anak ROHIS, DKM, LDK dan organisasi-organisasi remaja Islam seperti biasanya. Sedangkan anak yang satunya sepertinya anak band, soalnya tampangnya necis banget.

Awalnya aku tidak terlalu menghiraukan mereka, aku memilih untuk konsentrasi agar mata ini terpejam dengan nyaman. Namun susah juga untuk tertidur nyenyak apalagi dua anak SMA ini ga habis-habis ngobrolnya, sepertinya yang dibahas seru juga nih. Walau mataku terpejam, diam-diam aku mendengarkan obrolan mereka. Sampai aku pun jadi tahu nama mereka, yang tampangya anak band itu namanya Sakti yang ternyata anak ROHIS juga, tapi baru saja bergabung, terus yang satunya bernama Nabil.

Di tengah-tengah percakapan mereka, aku mendengar obrolan yang menarik.

Sakti: “Seneng Bil aku bisa ikut ROHIS, ternyata seru juga. Coba ga ada kamu, aku bakalan malu soalnya cuma ama kamu aku akrabnya. Eh Bil, coba lihat arah jam 2, ada cewek manis tuh, seksi lagi, hehehe.”

Nabil: “Alhamdulillah. Nyantai aja Ti, kita kan udah sohib dari kecil. Wah ga inget kamu Ti, kita kan sedang puasa nih…”

Sakti: “Astaghfirullah iya ya.., susah deh kalo jalan ama ketua ROHIS.”

Nabil: “Jangan sebut merek dong, biasa aja dong Ti, hehe…”

Sakti: “Sorry Bil becanda hehe, tapi perasaan walaupun ga puasa juga kamu kalo lagi jalan atau papasan ama cewek, kamu sering tunduk. Kenapa sih Bil?”

Nabi: “Ga papa kok, Cuma lagi belajar ghadul bashor (menjaga pandangan) aja…”

Sakti: “Maksudnya?”

Nabil: “Kan udah ada haditsnya, kamu udah tahu kan?”

Sakti: “Iya tau, kan kemaren pas mentoring ngebahas hadits ini, cuma kemaren aku belum ngeh, abisnya pas aku mau nanya ama ustadznya keduluan terus ama yang lain. Tapi kenapa kamu sering tunduk, aku lihat ustadz-ustadz dalam menjaga pandangan ga segitunya sampai tunduk-tunduk kaya kamu tuh…”

Nabil: “Ya beda lah, aku kan masih remaja, otomatis nafsu ke lawan jenis sering bergejolak terus masih belum bisa mengontrol dengan baik. Kalo ustadz kan Insya Allah sudah bisa mengontrol dengan baik. Terus kalo ustadz kan kebanyakan sudah punya istri, jadi kalo pengen tinggal merayu istri aja, terus jadi pahala hehe… Nah kalo aku mau merayu siapa? Yang ada juga malah jadi dosa… Atau aku merayu kamu aja lah Ti hahahaha…”

Sakti: “Iya juga Bil, remaja kaya kita masih sering bergejolak nafsunya. Ih ogah banget dirayu kamu hahaha… Tapi gimana kalo ada cewek yang pake baju seksi, bukan salah kita dong kalo kita ga sengaja ngeliat, salah mereka sendiri dong yang pake baju seksi kaya cewe-cewe arah jam 2 tadi hehe…”

Nabil: “Tetap aja kita salah. Kalo ga sengaja sih ga papa, tapi jangan pura-pura ga sengaja jadinya ngeliatin melulu.”

Sakti: “Jadi yang salah siapa? Ga adil dong kalo sama-sama salah…”

Nabil: “Tergantung kondisinya, kalo yang ngelihat udah tau yang dia lihat ga baik tapi masih dilanjutin ya salah dong, trus yang pake baju seksi udah tahu kalo itu kurang sopan ya salah juga dong…”

Sakti: “Betul… betul… betul… Hmm Bil, coba aja para cewek tau apa yang dipikirkan oleh kebanyakan cowo kalo mereka pake baju seksi, aku yakin pasti para cewek ga bakalan mau lagi pake baju seksi. Kecuali tu cewek yang emang genit dan niatnya mau pamer aset yang dia punya…”

Nabil: “Subhanallah, iya juga ya, pinter juga kamu Ti hehe…”

Sakti: “Ya iyalah, Sakti gitu loh, kata-katanya juga harus sakti dong… hahaha”

Nabil: “Makanya Ti, aku tu seneng banget kalo liat cewek yang pake jilbab, apalagi kalo ngeliat akhwat, anggun banget dengan jilbab lebar mereka…”

Sakti: “Nah lo, hayo mikirin akhwat… lagi puasa lho hahaha…”

Nabil: “Ah kamu gitu lah Ti…”

Sakti: “Sorry bro, guyon dikit boleh dong…hahaha, Bil, makasih ya!”

Nabil: “Makasih atas apa Ti?”

Sakti: “Makasih udah mau jadi sahabat aku sampai sekarang, udah sabar sering nasehatin aku dan makasih udah memperkenalkan aku dengan ROHIS. Kalo ga, mungkin aku tiap malam masih suka keluyuran”

Nabil: “Iya Ti sama-sama, jangan makasih ke aku, makasihnya ke Allah, aku cuma perantara-Nya aja kok.”

Sakti: “Halah lebay kamu Bil, eh Bil balik sekarang yuk?”

Nabil: “Oke…”

Setelah anak-anak SMA itu pulang, aku merasakan ada orang duduk tepat di sampingku. Waduh, deg-degan juga, firasatku ga enak, aku pun tetap memejamkan mata. Tiba-tiba orang itu menyolek bahuku dan memanggilku, eh ternyata saudaraku.

“Kamu tidurnya enak banget, cape ya?”, kata saudaraku.

“Hehe ga kok Mas cuma rada ngantuk aja, udah lihat-lihat baazarnya?”, jawabku sambil nyengir.

“Udah kok, oiya mana kunci motornya? Biar Mas aja yang bawa motornya, soalnya kamu kayaknya masih ngantuk ntar naik motornya malah akrobat hehe, tapi kamu yang bawain barang-barang ya!”, kata saudaraku.

“Oke, siap Bos hehe…”, sahutku.

Aku dan saudaraku pun kembali mengembara menyusuri tempat-tempat belanja

 

Tulisan ini pernah dimuat di dakwatuna.com, link
http://www.dakwatuna.com/2013/11/08/41902/jadi-siapa-dong-yang-salah/#ixzz305PNBavu

Allah Maha Tahu, Kita Tidak Tahu tapi Sok Tahu

Langit CerahTetaplah berbaik sangka kepada-Nya…
Tetaplah berharap sepenuh hati kepada-Nya…
Tetaplah gantungkan asa setinggi apapun itu hanya kepada-Nya…
Ya sekali lagi, hanya kepada-Nya…

“…Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’Raf : 56)

“…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf : 87)

Dan, jika akhirnya harapan tidak sesuai seperti yang diidam-idamkan…
Tetaplah berbaik sangka kepada-Nya…
Tetaplah berbaik sangka kepada Allah Yang Maha Mengetahui, karena…

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang engkau tidak mengetahui.” (Al-Baqarah : 216)

Sungguh, janji Allah itu pasti, Allah pasti mengabulkan do’a kita para hamba-Nya…
Hanya saja kita sering ragu…
Ketika Allah mengabulkan do’a, kita malah sering lupa…
Kita tak ingat bahwa dahulu kita pernah meminta itu dari-Nya…
Memang sedikit sekali kita bersyukur…

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman : 13)

Ayat-ayat Motivasi

don't worry, be happy :)

 

Karena kita adalah saudara!

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya engkau mendapat rahmat.(Al Hujurat : 10)

 Kenapa kita harus berjuang?

Dan berjuanglah engkau pada jalan Allah dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih engkau dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk engkau dalam agama suatu kesulitan…(Al-Hajj : 78)

Apa yang kita dapatkan jika menolong agama Allah?

Hai orang-orang mukmin, jika engkau menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(Muhammad : 7)

 Ingatlah, doa adalah kekuatan kaum muslimin!

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(Al-Baqarah : 185)

Mengapa kita sering di uji?

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.(Al-Ankabut : 2-3)

Kenapa kita tidak selalu mendapat yang kita idam-idamkan?

Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang engkau tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Apa yang kita lakukan jika merasa terbebani, frustasi, bingung dan sedang bersedih? Maka ingatlah!

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami…(Al-Baqarah : 286)

Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita..(At-Taubah 40)

Janganlah engkau merasa lemah dan jangan pula engkau bersedih hati…(Ali Imran : 139)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu..(Al Baqarah : 45)

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Al-Insyirah : 6)

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah engkau dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga… (Ali Imran : 200)

Apa yang kita dapatkan dari semua ini?

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (At-Taubah : 111)